Paradoks FORKI dan PSSI

Sebuah paradoks, atau setidaknya perbedaan yang sangat nyata, antara kinerja organisasi FORKI (karate) dan PSSI (sepak bola) tersaji dengan sempurna di depan mata kita dalam seminggu terakhir. Foumnya sama-sama internasional, lokasi perhelatannya sama-sama di dalam negeri, tapi betapa berlawanan hasilnya.

Selama dua hari, 24-25 September, di Denpasar, Bali, FORKI menggelar kejuaraan Indonesia Terbuka sebagai ujicoba terakhir sebelum para karateka pilihannya berangkat bersama kontingen Indonesia ke Asian Games XVI di Guangzhou, Cina, November mendatang. Hasilnya, tim karate Indonesia menjadi juara umum dalam kejuaraan yang diikuti enam negara itu dengan meraup 9 medali emas, 12 perak dan 18 perunggu.

Sementara itu, 20-26 September di stadion Manahan Solo, PSSI menjadi tuan rumah kejuaraan sepak bola memprebutkan Piala AFF (ASEAN) U-16 yang diikuti empat negara, termasuk tim tamu Cina. Hasilnya? Tim remaja asuhan pelatih Mundari Karya itu menjadi juara kunci. Sedihnya lagi, pada partai perebutan peringkat tiga, pasukan Mundari digebuk Timor Leste dengan dua gol tanpa balas, membuat lalulintas SMS langsung  berseliweran di ponsel dengan nada nestapa, “Mau ke mana sepak bola kita?”.

Sepak bola memang tidak untuk dibandingkan dengan karate, begitu pula sebaliknya. Setiap olahraga memiliki karakter dan kesulitannya masing-masing. Tapi hukum sebab akibat berlaku universal, bahasa pembinaan olahraga juga berlaku sama di mana-mana. Buah bagus, kata pepatah, tak akan dipetik dari pohon yang tak ditanam dengan benih dan pupuk yang baik.

Dari yang kita ketahui lewat pemberitaan media saja bisa disimpulkan bahwa FORKI telah menyiapkan para atletnya melalui proses yang panjang, berjenjang dan teruji. Sebagian besar dari atlet pelatnas itu  pun telah melewati tahap pelatihan dan ujicoba yang keras, baik di dalam negeri maupun di manca negara, bahkan sampai ke pusat dan asal olahraga beladiri tangan kosong ini, Jepang.

Meski begitu pelatih maupun pimpinan FORKI  tidak langsung  puas dengan hasil perjuangan para atletnya di Bali itu. Sebab kejuaraan itu tidak diikuti oleh setidaknya tiga negara unggulan di Asia, yakni Jepang, Korea Selatan, dan Iran. Para karateka putri juga belum mampu menampilkan kemajuan sebagus putranya, bahkan ada yang tersusul dan dikalahkan oleh atlet pelapis yang disiapkan untuk sasaran lebih rendah, SEA Games 2011.

Dengan demikian hasil ujicoba terakhir di Bali itu belum bisa membuat para pembina FORKI terlalu optimistis dapat meraih prestasi optimal pada sasaran utama pada Asian Games 2010 di Guangzhou.  Manajer tim Djafar Jantang masih merasa perlu dilakukan perbaikan teknis dalam pengembangan variasi jurus, sementara Ketua Umum PB FORKI Hendardji Soepandji masih merasa perlu adanya ujicoba tambahan di Austria Terbuka sebelum bertolak ke Guangzhou dengan misi yang tak bisa ditawar lagi: mengulang prestasi emas Asian Games 1998 dan 2002.

Bagaimana dengan PSSI? Adakah kondisi optimistis dan tekad untuk menjadi tim nomor satu pada Kejuaraan Piala Asia U-16 di Uzbekistan setelah mengalami nasib buruk di Solo itu? Wajar kalau tidak. Wajar kalau pelatih Mundari, seperti diberitakan TopSkor, malah menjadi pesimistis pasukannya tidak akan mampu meraih hasil bagus pada kejuaraan nanti. Apalagi tim Indonesia berada dalam grup yang berat bersama tuan rumah Uzbekistan, Tajikistan dan Yordania.

Mundari mengeluhkan pula kondisi memprihatinkan yang kini dialami tim asuhannya itu tak lain karena kurangnya perhatian dari pimpinan PSSI. Ujicoba ke luar negeri maupun kebutuhan operasional tim, termasuk honor bagi para pemain dan pelatih, selalu terkendala karena seret dan lambatnya kucuran dana dari PSSI. Sungguh sedih mendengar kabar bahwa para pemain harapan yang seharusnya dibina dan dirawat dengan baik itu pernah hanya makan nasi bungkus seusai latihan.

Dari kondisi seperti itu memang tidak bisa diharapkan hasil yang sekadar lumayan, apalagi menghadapi tim seperti Cina dan Vietnam yang kita ketahui sangat memberi perhatian dan dukungan terhadap upaya-upaya pembinaan pemain usia muda dan dini. Bahkan Timor Leste kini sudah mulai memberikan perhatian cukup besar kepada pembinaan atlet-atlet mudanya, meski dengan dana yang sangat terbatas.

Kenyataan bahwa PSSI terbukti bisa mendatangkan tim sebesar Uruguay  untuk sekadar menjadi lawan ujicoba timnas senior untuk kejuaraan AFF 2010 jelas menunjukkan bahwa organisasi yang diketuai Nurdin Halid ini sebenarnya memiliki dana yang lumayan besar. Tapi kenapa mereka mau dan mampu mengadakan dana untuk sebuah pertandingan eksibisi, dan di saat yang sama membiarkan sebuah tim yang menjanjikan masa depan lebih cerah justru ditelantarkan?
Kita ternyata tidak perlu bersusah payah mencari jawaban atas pertanyaan (berdasar kenyataan) yang aneh itu.

Wartawan TopSkor telah pula dengan cepat dan tepat mendatangi Nurdin untuk diminta komentarnya tentang berita buruk dari Solo itu.  Judul hasil wawancara dengan Nurdin itu sungguh memilukan siapa saja yang peduli dengan sepak bola negeri ini: “PSSI Tak Risau dengan Prestasi Timnas U-16”.

Wow! Seorang ketua umum PSSI tidak peduli dengan prestasi buruk salah satu timnas di bawah kendalinya? Tapi ia begitu peduli pada hadirnya sejumlah pemain profesional bertarif tinggi dari Amerika Latin  untuk sekadar bereksibisi? PSSI belum tentu bisa meraup keuntungan (termasuk finansial) dari partai persahabatan itu, tapi yang sudah pasti Nurdin cs telah gagal menambah modal semangat dan keyakinan dari sejumlah pemain muda pilihan untuk meraih kejayaan internasional yang sangat kita dambakan.

Dalam membina atlet PSSI memang masih harus banyak belajar, termasuk dari FORKI, khususnya dalam perencanaan dan penentuan skala prioritas. Maka tak heran kalau untuk Asian Games kali ini pun timnas U-23 PSSI tidak dianggap layak ikut.berangkat. Lebih buruk dibanding Asian Games empat tahun lalu di Doha, tersisih di babak pra-kualifikasi!

0 komentar:

Posting Komentar

KOMENTAR ANDALAH YANG KAMI BUTUHKAN.