Atlet karate Indonesia, Nur Hadiyanti Fitrianingsih (kiri), kalah hantei dari atlet Meksiko, L Mendoza, pada babak kedua nomor kumite -55 kilogram di Kejuaraan Dunia Karate Ke-20 di Beograd, Serbia, Kamis (28/10). Pada hari pertama dan kedua atlet Indonesia bertumbangan karena faktor mental, kecepatan, dan tenaga. Kejuaraan ini menjadi ajang mengevaluasi pelatnas SEA Games 2011. Beograd, Kompas - Atlet karate Indonesia bertumbangan pada hari pertama dan kedua Kejuaraan Dunia Karate Ke-20 yang digelar di Beogradska Arena, Beograd, Serbia, 27-31 Oktober. Kegagalan atlet Indonesia di babak penyisihan disebabkan sejumlah faktor, mulai dari mental, tenaga, teknik, hingga strategi.
Pada hari pertama, lima atlet Indonesia yang mengikuti lima nomor berbeda tumbang di babak penyisihan. Hari kedua, Kamis (28/10), tiga atlet Indonesia yang tampil di nomor kumite juga tumbang. Prestasi terbaik Indonesia di Kejuaraan Dunia Karate adalah meraih medali perunggu pada 2006 di Finlandia melalui karateka Donny Darmawan.Ayu Safitri yang turun di kelas -61 kilogram langsung kalah di babak pertama melawan V Avecedo (Argentina). Adapun di nomor -55 kilogram Nur Hadiyanti Fitrianingsih sempat menang telak 8-0 dari karateka Albania G Karpuzzi sebelum dikalahkan karateka Meksiko, L Mendoza, pada babak kedua.
Fitrianingsih sempat memaksa Mendoza dua kali bermain imbang 1-1 sebelum hasil akhir ditentukan wasit melalui hantei. Fitrianingsih yang bermain taktis di babak pertama, kurang agresif di babak kedua. Lawannya lebih agresif sehingga wasit cenderung memenangkan Mendoza.
”Ini akibat kesalahan strategi. Fitrianingsih seharusnya mengubah strategi dengan tidak melakukan oi zuki, yaitu pukulan tangan sambil kaki melangkah maju karena membuang waktu,” ujar Manajer Tim Indonesia Zulkarnaen Purba.
Zuliyar Usia Motuty di kelas -67 kilogram juga tumbang 0-5 di babak pertama dari karateka Perancis, W Rolle. Ia sebelumnya menang bye di babak pertama dan menang WO di babak kedua atas Kaene Kago dari Botswana.
Pada hari pertama karateka peserta pelatnas Asian Games 2010, Faizal Zainuddin, tumbang 1-4 di babak ketiga nomor kata (jurus) dari karateka Inggris, Jonathan Mottram. Faizal yang diharapkan menyumbangkan medali perunggu di kejuaraan ini gagal setelah dua babak sebelumnya menang meyakinkan dari karateka Uzbekistan, I Mukhammadzaid (5-0), dan menundukkan karateka Austria, S Klausberger (3-2).
Atlet kata perseorangan Yulianti juga hanya sampai babak ketiga setelah dikalahkan karateka Kroasia, Mirna Senjug, yang langganan juara di berbagai kejuaraan Eropa. Yulianti sebelumnya mengalahkan wakil Moldova, A Stratu (4-1), dan karateka Ceko, M Vasekova (5-0).
Pelatih kata, Aswan Ali, menilai, secara teknik Faizal dan Yulianti tak kalah. Mereka hanya kurang tenaga. Kekalahan ini jadi pelajaran bagi kedua atlet untuk memperbaiki diri.
”Secara teknik, mereka memiliki kualitas sama. Tapi, secara power, dia kalah jauh. Itu yang membuatnya tersingkir. Padahal, kalau bisa lolos di babak itu, setidaknya dia bisa merebut perunggu karena tinggal perebutan juara grup,” ujar Aswan.
”Saya memang merasa terjegal. Jika saya lolos, peluang merebut tempat ketiga terbuka lebar. Tapi, ini pelajaran bagi saya untuk lebih mematangkan diri sebelum turun di Guangzhou,” ujar Faizal.




0 komentar:
Posting Komentar
KOMENTAR ANDALAH YANG KAMI BUTUHKAN.